Sebuah aku yang berenang-renang pada nyala-nyala kecil sebuah lililn terembus angin
Malam adalah sekelompok awan hitam yang singgah sementara
Pada sebuah ruang kosong berdinding putih
Lelembut malam meneduhkan diri
menggerayangi hangat tubuh satu-satu
Aku dan kayu apu yang naik-turun ala kerja mesin jahit
Ganggang lumut hijau, di pesisir tubir batu perawan
Kau dan aku berkendara keterhanyutan diri-diri
Ketika kau rebah pada alas tubuh dari kapuk
Pekik suara penonton bola siap samarkan desah
Aku melampauimu tanpa memedulikanmu
"Egois," katamu dengan suara keras, tak puas
"Tapi aku lelah," pandanganku menukik pada selangkangan malam yang terlihat lebam
"Aku lelah jika semuanya harus dimulai lagi dengan rayu dan raba"
Cinta di antara paha dan sprei putih mendengkur melupakan dirinya